Kamis, 08 November 2012

Sin Tiauw Hiap Lu 7



JILID 7

Dengan sendirinya se-kali2 Bu Sam-thong bukan tandingan Auwyang Hong, baru bergebrak belasan jurus ia sudah kena dihantam sekali hingga terjungkal ke bawah rumah.
Waktu datangnya Auwyang Hong ke hoicl itu Yo Ko memang sudah mendusin, tatkala ayah angkatnya ini ber-turut2 bergebrak dengan Bu Sam-thong dan suami isteri Kwe Ceng dan Oey Yong, selama itu Yo Ko terus berdiri menonton di samping.
Kemudian setelah Auwyang Hong dan Kwe Ceng sama2 terluka dan ada orang yang memperhatikan dirinya, maka diam2 ia telah menyusul Auwyang Hong.
jalannya Auwyang Hong mula2 sangat cepat, sudah tentu Yo Ko tak mampu menyandaknya, tetapi sesudah lukanya bekerja hingga melangkah saja terasa susah, maka dapatlah Yo Ko menyusul dan memayangnya ke kelenteng bobrok.
Walaupun umur Yo Ko masih kecil, tetapi segala hal ternyata ia paham, ia tahu kalau dirinya tidak kembali tentu Oey Yong dan Kwa Tin-ok cs. akan mencarinya, jika terjadi begini tentu akan membahayakan jiwa Auwyang Hong yang terluka parah itu, maka lebih dulu ia telah tunggu orang di tepi jalan hingga akhirnya bertemu lagi dengan Kwe Ceng dan tengah malam ia datang pula menjenguk ajah angkatnya lagi,
Begitulah sesudah dengar penuturan Njo Ko baru Auwyang Hong merasa lega, Tetapi bila teringat olehnya Kwa Tin-ok tidak berhasil dia binasakan pada siangnya, kembali ia menjadi kuatir.
“Orang she Kwe itu telah merasakan pukulanku, dalam tujuh hari terang dia tak akan bisa sembuh,” demikian katanya kemudian, “lsterinya harus melayani suaminya. tentu tak berani sembarang tinggal pergi, maka kini kita hanya kuatirkan si buta she
Kwa seorang saja. Kalau malam ini dia tidak datang, pasti besok dia akan mencari kesini, sungguh sayang sedikitpun aku tak bertenaga, Ai, aku sudah membunuh lima saudara angkatnya, kalau kini aku mati di tangannya rasanya juga… juga…”
Berkata sampai disini, ia lantas ter-batuk2.
Sementara itu Yo Ko duduk di lantai dengan tangan menunjang janggut, sekejap itu saja timbul macam2 pikirannya. ia lihat Auwyang Hong rebah dengan kedua tangan digunakan sebagai bantah meski rebah dengan melintang, tetapi kedua kaki orang tua ini masih tetap pasang kuda2 seperti biasanya kalau berlatih ilmu Ha-mo-kang, jadi kuda2nya mirip kodok saja.
“Ah, aku ada akal,” tiba2 Yo Ko berpikir, “biar aku taruh beberapa macam benda tajam di atas lantai, kalau si buta itu masuk begitu saja, biar dia merasakan sedikit luka dahulu.”
Karena pikiran ini, segera ia turunkan empat buah Cektay, yakni tempat menancapkan lilin yang biasa dipakai di meja sembahyang, ia buang sisa lilinnya, ia pasang cektay di mulut pintu secara berjajar dengan bagian yang lancip tajam menghadap ke atas, Habis ini ia tutup pintu kelenteng itu dengan setengah rapat, lalu ia angkat sebuah Hio-lo (tempat abu) yang terbuat dari besi, ia manjat ke atas dan pasang Hio-lo itu di atas daun pintu yang setengah rapat itu,
Kemudian ia memeriksa sekitarnya lagi, ia ingin mendapatkan jebakan lain yang bisa dipasang untuk pedayai orang, tetapi tiada yang terdapat lagi kecuali di atas ruangan kelenteng bagian timur dan barat m:ising2 tergantung sebuah genta raksasa.
Begitu besar genta itu hingga sedikitnya lebih dua ribu kati beratnya dan tidak cukup dirangkul tiga orang sejajar. Di atas genta masing2 terdapat satu gantolan besi yang sangat besar pula dan terikat kencang di atas kerangka kayu yang terbuat dari balok2 besar.
Kelenteng ini rupanya sudah sangat tua dan bobrok, tetapi kedua genta raksasa ini karena pembikinannya sangat kokoh dan kuat maka masih dalam keadaan baik.
“Jika betul-betul si buta she Kwa itu masuk ke sini, aku nanti manjat ke atas kerangka genta itu, tanggung dia tak akan bisa ketemukan aku,” demikian Yo Ko berkata dalam hati.
Waktu Yo Ko hendak pergi ke bagian belakang untuk mencari sesuatu alat senjata yang cocok baginya, tiba2 terdengar dari jalan besar di luar berkumandang suara “tak-tek-tak-tek” yang diterbitkan oleh ketokan tongkat “besi”.
Air muka Yo Ko seketika berubah, ia tahu betul2 Kwa Tin-ok telah datang, maka cepat ia sirapkan api lilin. Tapi segera ia ingat perbuatannya ini hanya berlebihan saja, ia pikir: “Mata si buta itu tak bisa melihat sebenarnya tidak perlu aku padamkan lilin.”
Dalam pada itu suara “tak-tek” tadi sudah makin dekat, mendadak Auwyang Hong bangkit berduduk, ia hendak kumpulkan seluruh tenaga yang masih ada padanya itu di tangan kanannya, ia hendak mendahului musuh dengan sekali pukul membinasakannya.
Yo Ko sendiri juga ber-debar2, ia pegang Cek-tay itu dengan bagian lancip menghadap keluar, ia jaga disamping Auwyang Hong siap melawan musuh.
Memang tidak salah suara “tak-tek” tadi adalah suara tongkat Kwa Tia-ok yang meng-ketok2 tanah bila berjalan.
Meski mata Tin-ok buta, tetapi orangnya luar biasa cerdiknya, ia menduga sesudah Auwyang Hong terluka, pasti akan sembunyi di sekitar tempat ini, maka sebelum bersantap malam, di tempat pondok nya ia sudah mencari tahu dengan jelas bahwa di sekitar sini hanya terdapat sebuah kelenteng kuno yang bobrok, kecuali ini hanya rumah penduduk melulu, maka ia sudah menaksir sembilan bagian pasti Auwyang Hong sembunyi di dalam kelenteng ini.
Bila teringat olehnya kelima saudara angkatnya semua dibinasakan Auwyang Hong secara keji di pulau Tho-hoa, kini ada kesempatan bagus untuk menuntut balas, sudah tentu tidak dia lewatkan begitu saja. Maka setelah tengah malam, dengan pelahan kemudian ia me-manggil2: “Ko-ji, Ko-ji !”
Tetapi ia tidak mendapatkan jawaban, ia sangka tentu anak ini sedang nyenyak tidur, maka ia tidak mendekatinya lagi buat periksa melainkan terus keluar rumah pondok dengan melompati pagar tembok. Kedua anjing tadi masih menggerogoti tulang yang dilempar Yo Ko itu, maka munculnya Kwa, Tin-ok tidak di-gonggong mereka, hanya terdengar suara geraman saja beberapa kali untuk kemudian menggeragoti tulang lagi.
Pe-lahan2, akhirnya sampai juga di depan kelenteng itu, ketika Kwa Tin-ok pasang kuping, betul saja di ruangan dalam terdengar ada suara bernapasnva orang.
“Hayo, Auwyang Hong, Si buta she Kwa sudah berada di sini, kalau kau jantan, lekas keluar!” segera ia berteriak menantang.
Sambil berkata, ia ketok tongkatnya ke tanah dengan keras.
Akan tetapi Auwyang Hong tidak menyahut, ia kuatir tenaga yang sudah dikumpulkan sejak tadi itu gembos, maka tak berani ia buka suara.
Setelah ber-teriak2 beberapa kali lagi dan tetap tiada jawaban, akhirnya Kwa Tin-ok menjadi tak sabar, begitu ia angkat tongkatnya, segera ia dorong pintu kelenteng terus melangkah masuk.
Tak tersangka, mendadak terasa olehnya ada samberan angin yang berat, semacam benda antap tahu2, menghantam dari atas kepalanya, berbareng itu pula kaki kirinya yang melangkah masuk itu tepat menginjak pada tancapan lilin yang tajam itu hingga sol sepatunya tembus, telapak kakinya seketika kesakitan,
Karena matanya buta, sesaat itu Kwa Tin-ok tidak mengerti apa yang terjadi, hanya lekas2 ia ayun tongkatnya ke atas, maka terdengarlah suara “trang” yang keras dan nyaring memekak telinga, Hio-lo yang jatuh dari atas itu kena dia hantam hingga terpental, menyusul ini ia jatuhkan diri pula agar kakinya tidak sampai tertancap tembus oleh benda tajam tadi.
Tak ia duga bahwa disamping lain masih terdapat beberapa Cektay pula yang sama tajamnya, keruan segera pundaknya terasa sakit sebuah tancapan lilin itu telah menusuk tubuhnya, Ketika ia pegang Cektay itu dan dicabut keluar, maka mengucurlah darah membasahi pakaiannya.
Ia tak berani lagi cerohoh, ia pasang kuping pula dan dapat mendengar suara bernapasnya Auwyang Kong, maka setindak demi setindak ia maju pelahan, sekira tiga kaki dihadapan orang, segera ia angkat tongkatnya ke atas.
“Ayo, Lo-ok but (Si binatang tua berbisa), sekarang apa yang hendak kau katakan lagi?” bentak Tin-ok.
Sementara itu Auwyang Hong sudah kumpulkan seluruh tenaga yang ada padanya dan dipusatkan pada telapak tangan kanannya, ia tunggu bila tongkat Hui-thian-pian-hok benar2 mengemplang, maka sekaligus iapun akan menghantamnya, dengan demikian supaya binasa ber-sama2.
Begitu!ah karena sama2 tidak mau serang lebih dulu, mereka berdua menjadi berdiri berhadapan saja dan sama2 tidak bergerak.
Kemudian dengan telinga Tin-ok yang tajam, akhirnya ia dengar suara napas orang yang berat dan sesak, tiba2 terkilas pula suara dan wajah kelima saudara angkatnya: Cu Jong, Han Po-ki, Lam Hi-jin dan Han Siaueng, yang menjadi korban Auwyang Hong, yang se-olah2 muncul dan be-ramai2 sedang menganjurkan padanya agar lekas turun tangan, Oleh karena itu, tidak bisa tahan lagi, dengan sekali geraman yang keras, dengan gerak tipu “Cin-ong-pian-sek” (raja Cin merangket batu), Tin-ok ayun tongkatnya menggepruk ke atas kepala orang.
Namun Auwyang Hong masih keburu berkelit, dan selagi ia hendak lontarkan hantaman balasan, tetapi apa daya? Keinginan ada, tenaga kurang. Baru tangannya terangkat atau napasnya sudah tak bisa menyambung lagi, keruan ia menjadi lemas hingga ngusruk jatuh.
Maka terdengarlah suara “bang” yang keras dibarengi dengan muncratnya lelatu api, ujung tongkat Kwa Tin-ok telah menghancurkan beberapa ubin hingga hancur.
Kwa Tin-ok tidak memberi kelonggaran pada lawannya, sekali serang tidak kena, serangan kedua segera menyusul pula, kini tongkatnya menyerampang dari samping,
jika dalam keadaan biasa, serangan Kwa Tin-ok ini cukup Auwyang Hong sambut dengan sedikit senggol saja pasti akan bikin tongkat terpental dari cekalan atau paling tidak dapat pula menghindar dengan melompat ke atas.
Tetapi kini seluruh badan Auwyang Hong lemas linu, tenaga sedikitpun tak bisa dikeluarkan, terpaksa untuk kedua kalinya ia harus robohkan diri dengan menggelinding kesamping.
Dalam pada itu dengan cepat Kwa Tin-ok sudah mainkan ilmu tongkat “Hang-mo-tiang-hoat” (ilmu tongkat penakluk iblis), ia menyerang dengan hebat, satu serangan lebih cepat dari serangan yang lain, sebaliknya gerak-gerik Auwyang liong makin lama semakin lamban dan kaku, hingga akhirnya mau-tak-mau ia kena digebuk sekali dipundak kirinya.
Menyaksikan pertarungan ini, hati Yo Ko menjadi ber-debar2, maksud hatinya hendak maju membantu sang ayah angkat, tetapi apa daya, ia mengerti ilmu silat sendiri terlalu cetek dan tidak tahan sekali digebuk musuh, kalau berani ikut2 maju, maka tiada bagian lain kecuali antar nyawa belaka, Tetapi ia saksikan tongkat Kwa Tin-ok susul menyusul kena menghantam di atas badan Auswyang Hong, ia menjadi ngeri pula.
Agaknya memang sudah nasib Auwyang Hong yang harus alami ajaran ini, untung dia bukan jago silat sembarangan ia punya tenaga dalam yang terlatih tinggi sekali, meski dalam keadaan tak mampu membalas, tetapi ia masih mampu mematahkan serangan orang, tiap2 tenaga gebukan yang Kwa Tin-ok lontarkan selalu dia singkirkan kesamping, meski tubuhnya kena dihajar hingga babak-belur, tetapi jerohannya tiada yang terluka.
Diam2 Kwa Tin-ok menjadi heran, dalani hati ia pikir “Lo-tok-but” atau Si-binatang tua berbisa (julukan Auwyang Hoag) ini sungguh bukan main lihaynya, tiap2 hantaman tongkatnya ternyata seperti mengenai kasur saja, hanya mengeluarkan suara “”bluk” yang keras, tetapi Auwyang Hong seperti tidak berasa saja, ia pikir kalau tidak hantam bagian kepalanya, meski seribu kali gebuk lagi belum tentu bisa mampuskan dia. Tidak ayal lagi Kwa Tin-ok lantas ayun tongkatnya semakin cepat, kini yang dia incar hanya kepala orang.
Bermula Auwyang Hong masih bisa mengkeret kepalanya untuk menghindar beberapa kali serangan itu, tetapi sekejap kemudian ia sudah terkurung rapat dibawah samberan angin tongkat musuh yang selalu berkisar di tepi telinganya saja, keruan ia me-ngeluh, ia mengerti kalau sampai kepalanya kena di-kemplang, dapat dipastikan akan mati seketika.
Sementara itu ia lihat tongkat Kwa Tin-ok telah mengemplang lagi, dalam keadaan kepepet terpaksa Auwyang Hong harus ambil risiko dan adu untung bukannya hindarkan diri lagi, sebaliknya mendadak ia menubruk maju, dengan kencang ia berhasil jam-bret dada orang.
Tentu saja tidak kepalang kaget Kwa Tin-ok, dalam gugupnya ia sempat gunakan gagang tongkatnya menyodok ke punggung orang, Tentu saja hantaman ini tak bisa dihindarkan Auwyang Hong.
Terdengar suara tertahan, Auwyang Hong terkena hantaman itu mentah2, luar biasa sakit punggungnya hingga hampir2 ia kelengar.
Sebaliknya Kwa Tin-ok mengira hantamannya itu tak berguna sama sekali dan tidak mampu melukai lawan lagi, seketika ia menjadi habis akal, terpaksa dengan tangan kiri ia jambret orang. Harus diketahui bahwa sebelah kaki Kwa Tin-ok memang pincang, ia bisa menubruk dan menyerang karena bantuan imbangan tongkatnya, kini karena tubuhnya kena dirangkul orang, maka setelah sekali dua kali gebrak, akhirnya tak sanggup lagi ia berdiri tegak dan jatuh terguling.
Namun belum mau Auwyang Hong lepaskan jambretan di dadanya, bahkan sebelah tangan yang lain ia hendak merangkul pinggang Kwa Tin-ok, tetapi tiba2 ia merasa tangannya menyentuh sesuatu benda keras, tidak ayal lagi ia cabut dengan cepat, waktu dia tegasi, kiranya adalah sebilah belati tajam.
Belati ini adalah senjata tinggalan Thio A Seng, salah satu saudara angkat Kwa Tin-ok, namanya ‘To-gu-to” atau belati jagal sapi, meski namanya belati jagal, tetapi sebenarnya tidak pernah dibuat sembelih sapi, Belati ini luar biasa tajamnya, Karena Thio A Seng tewas di tangan Tan Lip-hong di daerah monggol dahulu, belati ini lantas jatuh di tangan Kwa Tin-ok dan selalu dibawanya seperti selalu berdampingan dengan saudara angkatnya yang sudah tewas itu.
Mengetahui belati ini kena direbut Auwyang Hong dan justru mereka dalam pergulatan secara mati-matian, keruan ia terkejut, lekas2 ia ayun kepalan kiri menjotos sebelum tikaman Auwyang sampai, karena jototan ini Auwyang Hong terpelanting jatuh, menjusul mana tongkatnya Kwa Tjn-ok segera menghantam pula.
Jotosan yang tepat kena pelipisnya itu membikin Auwyang Hong merasa matanya ber-kunang2, lekas2 ia ayun tangannya, ia timpukan belati itu kepada musuh.
Kwa Tin-ok masih keburu berkelit, maka terdengarlah suara “Trang” yang nyaring, kiranya belati itu dengan tepat mengenai genta raksasa yang berada di tengah ruangan kelenteng itu.
Meski sambitan Auwyang Hong itu tidak membawa tenaga keras, tetapi saking tajamnya belati itu tingga menancap masuk setengah senti di atas genta itu, gagang belatinya sampai ter-goyang2 tiada hentinya.
Waktu itu kebetulan Yo Ko berdiri di samping genta, belati itu menyamber lewat hingga hampir2 pipinya keserempet, dalam kagetnya lekas2 anak muda ini memanjat ke atas kerangka genta dengan cepat.
Dipihak lain, tiba2 Auwyang Hong mendapat akal juga, ia mertgitar ke belakang genta yang tergantung itu. Pada waktu itu suara genta yang menggema masih belum lenyap, Kwa Tin-ok hendak mendengarkan di mana Auwyang Hong bernapas, maka dengan miring kepala dan pasang kuping ia sedang mendengarkan secara teliti.
Di bawah sorotan sinar bulan, tertampaklah rambut orang tua yang kusut ini sedang mendengarkan sambil menunjang tongkat, sikapnya sangat menakutkan.
Yo Ko memiliki otak sangat tajam, sesaat itu ia sudah dapat mengetahui sebab musababnya, maka sekuatnya cabut belati jagal sapi yang menancap tadi, lalu ia tabuh sekali lagi genta itu dengan keras, maka terdengarlah suara “trang” yang nyaring hingga suara pernapasan mereka berdua - Yo Ko dan Auwyang Hong - tertutup hilang.
Ketika mendadak mendengar suara genta lagi, dengan cepat Kwa Tin-ok menubruk maju, namun Auwyang Hong sudah memutar pergi lagi ke belakang genta, ketika Kwa Tin-ok memukul dengan tongkatnya, tongkat itu mengenai genta hingga kembali suara “trang” yang lebih keras menggema sampai memekak telinga.
Suara keras yang susul-menyusul itu membikin anak telinga Yo Ko se-akan2 hendak pecah, maka sesaat itu iapun tidak dengar suara lain, dalam pada itu Kwa Tin-ok telah mengamuk, dengan ayun tongkatnya ia hantam genta terus-menerus hingga suara genta semakin keras.
Melihat perbuatan orang, Auwyang Hong pikir tidak menguntungkan dirinya, bila Kwa Tin-ok mengetok genta terus, meski Kwe Ceng menderita luka, tetapi dikuatirkan Oey Yong akan menyusul datang buat membantunya.
Oleh karenanya, pada saat suara genta berbunyi hebat itu, secara berindap-indap pelahan ia bermaksud menggeluyur pergi melalui pintu belakang.
Siapa duga telinga Kwa Tin-ok memang tajam sekali, walaupun dalam menggemanya suara genta, masih bisa juga ia membedakan suara yang lain, begitu ia dengar suara menggeser tindakan Auwyang Hong, ia pura2 tidak tahu, ia masih ayun tongkatnya menabuh genta, ia menanti orang sudah bertindak pergi beberapa tindak dan sudah agak jauh meninggalkan genta, mendadak ia lantas melompat maju, ia ajun tongkatnya terus mengemplang kepala orang”,
Meski Auwyang Hong sudah kehilangan daya tahannya, tetapi selama hidupnya entah sudah mengalami berapa banyak badai dan tipumenipu diwaktu bertempur dengan sendirinya ia sudah ber-jaga2. Ma-ka begitu melihat tubuh orang bergerak, segera ia tahu maksud Kwa Tin-ok, belum sampai tongkat orang mengemplang atau lebih dulu ia sudah sembunyi kembali ke belakang genta.
Keruan Kwa Tin-ok menjadi gusar, “Biarpun aku tak bisa pukul mampus kau, pasti juga aku akan bikin kau mati letih !” demikian teriaknya murka, Habis ini dengan mengitar genta segera ia mengudak.
Nampak kedua orang itu berkejaran mengitari genta, Yo Ko insaf apabila waktu ber-Iarut2, pasti Auwyang Hong akan kehabisan tenaga, sedang keadaan sudah sangat berbahaya. Tiba2 ia mendapat satu akal, dari atas kerangka genta ia geraki kedua tangannya memberi isyarat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar